RSS

Aktivasi Otak Tengah (optimalisasi otak) : Pseudo Science atau Penipuan?

Dua bocah berusia 7 dan 6 tahun tampak asyik mewarnai gambar di sebuah stand di Ajang Semarang Art Festival (Sm@art Fest). Banyak orang merubung keduanya. Sebab terdapat pemandangan yang luar biasa.

Ya. bocah-bocah tersebut melakukannya dengan mata ditutup kain!

Para penonton dibuat takjub. Cekatan sekali bocah-bocah itu. Tangan mereka tak pernah keliru mengambil batang crayon sesuai warna pola yang sebelumnya dicoretkan pemandunya, seorang lelaki berpenampilan seperti Putu Wijaya, dengan topi pet khas seniman lukis.

Dua orang wanita muda dengan kaos seragam wargna oranye langsung sigap membagikan brosur kepada penonton. Keduanya bercuap-cuap menjelaskan kepada setiap penonton, bahwa dua bocah itu punya kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki anak-anak lain.

Hal itu karena otak tengah mereka telah diaktivasi . Istilahnya mid brain activation. (Sekarang istilah Aktivasi Otak Tengah sudah mereka ganti dengan Optimalisasi Otak). Dibantu seorang lelaki muda yang berdiri di belakang si bocah, mereka memberi penjelasan dan menjawab apapun pertanyaan para pengunjung.

Penjelasan mereka pun terdengar “ilmiah”, dengan brosur yang tampak meyakinkan. Dikatakannya, setiap anak usia 5-15 tahun bisa dilatih membaca atau mengenali benda dengan mata tertutup. Hal itu disebut Blind Fold Reading (BFR).

Cukup dengan aktivasi otak tengah selama dua hari, anak-anak bisa melakukannya. Tak hanya membaca, tapi juga bersepeda, menebak warna bola, gambar kartu, bahkan membaca koran atau mengoperasikan komputer dengan mata ditutup.

”Itu hanya sebagian kecil manfaat AOT,” tutur si sales yang juga bisa memeragakan kemampuannya membaca KTP pengunjung dengan mata ditutup kain. Manfaat lain, kata dia, bisa meningkatkan konsentrasi, menguatkan daya ingat, dan mengembangakan kreativitas. Serta bisa memperluas daya paham, mengoptimalkan bakat dan minat, lalu menyeimbangkan hormon, menumbuhkan karakter positif, serta menstabilkan emosi.

Betapa luar biasa. Sebagian pengunjung stad sampai menggeleng-gelengkan kepala.

”Semua itu cukup dengan dana investasi Rp 3,5 juta. Bisa dibayar 3 kali selama dua bulan,” sahut temannya dengan senyum dan kepala mengangguk sangat sopan.

Selain memberi pelatihan AOT, lembaganya juga memberikan pelatihan membaca cepat (speed reading), teknik melatik otak, juga pemetaaan pikiran (mind mapping), serta teknik melatik daya ingat. Materi hebat ini didapat selama dua bulan masa pendampingan, setelah 2 hari mengikuti AOT.

Beberapa pengunjung langsung mengisi buku tamu dan meningggalkan nomor telepon. Ada yang langsung tertarik mendaftarkan anaknya. Harga Rp 3,5 jt dianggap ”bijak” untuk sebuah investasi bagi masa depan anak. Iming-imingnya sangat menggiurkan. Anak bisa menjadi jenius, punya empati dan berkarakter.

Harsem yang penasaran, menunggui aksi dua bocah ”ajaib” tersebut hingga sekitar satu jam. Sambil motrat-motret dan merekam aksi mereka dalam video.

Setelah diperhatikan seksama, ternyata, mata dua anak tersebut tak benar-benar tertutup. Ada celah untuk mengintip di balik kain di sela hidungnya. Setiap kali mereka mau mengambil crayon, kepalanya mendongak. Jelas sekali matanya melihat ke arah wadah crayon. Bukan tangannya yang meraba-raba sebagaimana mestinya orang tuna netra atau buta sementara karena ditutup kain gelap.

Posisi tangan anak-anak tersebut mewarnai, tepat di arah intipannya. Sehingga gambar yang hendak diwarnai jelas terlihat. Disaksikan beberapa orang dan para kru GMC, Harsem lantas menutupkan kertas di muka si anak. Tak ada kesempatan mengintip lagi untuknya.

Benar saja, begitu pandangannya terhalang, coretan warnanya langsung amburadul. Crayonnya keluar dari garis, juga merusak warna lain yang telah rapi. Si anak lantas membuka kain penutupnya. Terbelalak dia mengetahui aksinya telah dihalangi Harsem. Pemandunya langsung tegang. Serorang wanita dewasa mengelus punggung si anak, lantas si ”Putu Wijaya” yang konangan berkilah.

”Itu tadi kesenggol, tak sengaja kecoret”. Padahal, si anak ketika ditanya Harsem mengaku kalau dia memang tidak bisa mewarnai kalau matanya terhalang.

Harsem lantas beralih menutup bocah di sebelahnya yang sedang dipamerkan bisa memilah kartu berdasar warnanya. Ada merah, hijau, biru, kuning dan ungu. Setumpuk kartu tampak mudah dia pilih lalu diletakkan ke tempat yang sama warnanya.

Tapi, begitu Harsem menutup mukanya dengan kertas, tangannya langsung berhenti. Gerakannya macet. Kartu hanya dibolak-balik sambil kepalanya berusaha mendongak. Tapi Harsem mengikuti gerakannya agar tetap tak bisa mentingip.

Kali ini, si karyawan perempuan yang blingsatan. Si bocah dielus-elus punggungnya, dipijit-pikit sedikit seperti memberi komando. Benar saja. Si bocah lantas menempelkan kartu ke telinganya. Si pemandu masih memegang bahunya, dengan sedikit tekanan. Maka, gerakan si bocah berganti. Kartu dicium. Tentu saja itu kesempatan untuk mengintip karena rongga ada di atas batang hidungnya. Sehingga kartu yang dicium itu berhasil diidentifikasi dan warnanya lalu diletakkan sesuai kelompok warnanya.

Kalimat yang disampaikan pemandu justru semakin membernarkan aksi mengintip si bocah. ”Kalau pandangan matanya terhalang, dia menggunakan indera lainnya,” katanya menjelaskan aksi si bocah yang menempelkan kartu di telinga dan hidung tadi.

Harsem dan penonton tersenyum. Tapi senyum yang membuat si pemandu dan krunya tambah tegang. Gurat malu tampak sekali di raut muka mereka. Hingga pemandu lain melengos tak berani menatap mata penonton yang lantas meninggalkan stand mereka.

Azka (23), seorang pengunjung stand tersebut berujar, ”Betapa kasihannya anak-anak itu. Masih kecil sudah diajari menipu”. Pimpinan lembaga yang mengklaim sebagai pertama dan satu-satunya di Indonesia itu tidak bersedia diajak bicara Harsem untuk menkonfirmasi soal tersebut, karena hujan deras dan stand keburu harus ”diselamatkan” dari cipratan air.

Unsur Penipuan?

Azka yang menyimpulkan terjadi penipuan, menyayangkan ulah orang yang berbisnis dengan memperalat anak-anak. Menurutnya, hal itu bisa mengarah ke eksploitasi, bahkan kejahatan.

Ari Priyono, pengunjung yang mengaku pernah menulis keluhan di dunia maya mengatakan, secara ilmiah manusia tidak bisa membaca atau menentukan warna dengan mata tertutup kalau ia tidak berbentuk. Lain halnya dengan huruf Braile yang bisa diraba. ”Kalau menentukan warna dan tulisan tanpa melihat, hal itu adalah kebohongan besar,” ujarnya. Ari juga membantah teori yang disebar di semua brosur lembaga AOT, bahwa radar identifikasi ada sedikit dibawah hidung. Menurutnya itu hanyalah cara bohong agar anak bisa melihat dengan cara mengintip dari bawah tutup mata mereka yang tidak rapat karena terhalang batang hidung.

”Bagi orang tua anaknya telah mengikuti AOT, dia minta diulangi sekali lagi dengan menutup rapat-rapat mata si anak. Yakinkan si anak maka buktikanlah. Tidak ada manusia bisa membaca tanpa ada cahaya masuk ke lensa matanya,” terangnya. Penelusuran Harsem, di internet sudah lama muncul grup yang mengulas tentang kebohongan otak tengah. Ada situs beralamat

Klaim Masih Diragukan

Harsem mencoba bertanya pada penyelenggara lain. Apa benar, anak-anak yang katanya jika diaktifkan otak tengahnya bisa membaca dengan mata tertutup.

Sebuah lembaga sejenis yang yang membuka kantor di berbagai tempat di Semarang dengan sistem waralaba, mengakui, tingkat keberhasilan AOT hanya 75%. Itupun tergantung dukungan orang.

Dikatakan salah satu marketing lembaga bertajuk Brain Activation, jika orang tua si anak ikhlas, dan anak mau bekerjasama, maka hasilnya bisa beraktivitas dengan mata tertutup. Bahkan bisa menjadi jenius dengan mengikuti program tambahan selama 2 bulan.

”Dengan harga Rp 2,5 juta kami bisa menjadikan anak Anda jenius dan berkepribadian positif. Program lanjutannya 2 bulan,” tutur si trainer yang mengklaim alumninya menjadi anak-anak yang luar biasa.

Namun ketika Harsem minta waktu ketemu pemimpinnya, diminta menghungi kantor lain hari untuk disambungkan. Lalu saat Harsem meminta nomor telepon salah satu alumni untuk dikonfirmasi, si trainer tidak bersedia memberikan.

Sementara lembaga lain yang mengklaim terbaik di Indonesia, direstui Unicef (lembaga PBB untuk anak-anak), mengaku berani menggaransi anak yang ikut AOT di tempatnya bisa jenius dan melihat benda di balik punggung jika mengikuti program lanjutannya selama maksimal 1 tahun. Tentu dengan biaya tambahan di luar AOT dua hari yang harganya Rp 3 juta.

Banyak lagi lembaga sejenis yang namanya berbeda-beda. Meski semua menyatakan bahwa kemampuan melakukan aktivitas dengan mata tertutup hanyalah sebagian hasil dan merupakan bonus, nyatanya, semua promosinya selalu dengan memamerkan BFR. Pendek kata, BFR menjadi dagangan utama untuk menarik minat konsumen.

Metodenya sederhana. Selama dua hari, anak-anak diajak bernyanyi dan bermain-main sampai merasa senang. Lalu diperdengarkan musik ”asing” yang dikatakan berlisensi dan dirahasiakan selama 40 tahun di Jepang dan negara-negara lain.

Musik tersebut disetel dengan frekuensi tertentu yang katanya membuat anak berada dalam konsisi alfa. Klaim ilmiah mereka, otak tengah dapat memancarkan gelombang (brain wave) yang pancarannya menuju ke bawah hidung. Gelombang tersebut diklaim bisa digunakan untuk mendeteksi benda ataupun warna dengan cara konsentrasi. Cara kerjanya mirip radar. Jika semakin dilatih, kemampuan anak semakin meningkat, sehingga semua benda yang ada di sekelilingnya, 360 derajat.

Ada pula yang mengatakan, cara AOT-nya dengan teknologi komputer, gelombang audio tertentu dan pendekatan Neuro-Linguistik Programme yang didukung pelatihan Motivasi. Adapula yang mengatakan otak anak tersebut mengeluarkan gelombang sebagaimana lumba-lumba dan kelelawar menggunakan sonar.

Tapi hal itu dibantah. Lumba-Lumba maupun Kelelawar bisa begitu karena mengeluarkan suara ultrasonic. Sama dengan teknologi kapal selam. Yakni suara yang dikirim menabrak suatu benda lalu dipantulkan kembali. Dengannya diketahui letaknya, jaraknya dan potensi kekuatannya.

Sedangkan anak-anak yang ikut AOT, tidak berteriak-teriak dan mendengat pantulan dari benda yang diteriaki. Jadi jelas beda dengan pola Lumba-Lumba dan Kelelawar.

Konsumen Berhak Mengadu

Semarang NgargonoDirektur Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Jawa Tengah Antoni Yudha Timor maupun

”Kami harap para orang tua yang merasa tidak puas atau merasa menjadi korban, melapor ke polisi atau kepada kami. Agar bisa kami dampingi dan bela hak mereka, ” kata Antoni.

Ngargono menambahkan, masyarakat patut waspada terhadap AOT. Sebab AOT saat ini menjadi barang dagangan yang laris.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: